GUNTUR DI ISTANBUL
Birch
Yah, andai saja waktu itu kami mendengarkan apa kata Ibu. Mungkin aku tak akan berdiri di gerbang Istanbul.
Berpisah dari Darin itu gak semudah yang dibayangkan, walaupun dari dini kami dekat tanpa hubungan darah dan menjalin rasa terikat. Namun di masyarakat, hubungan kami sudah dipandang sebelah mata. Olokan saudara tiri yang saling cinta itu bagai kilat bagi Ibu.
Oleh sebab itu Ibu mengasingkan ku di negara ini. Hanya seorang diri di usia ku yang baru menginjak sembilan belas.
Ya mau bagaimana lagi, keputusan Ibu tak bisa di pecah oleh Om maupun Darin. Ya, aku tau justru ini hal baik untukku dari segi pikir Ibu.
Banyak guguran daun menguning dari pohon birch yang sudah tua. Entahlah seisi jalan ini layak hutan diisi beberapa petak halte bus. Aku gak tau mengapa Turki se cinta itu dengan pohon hingga menembus rekor menanam tiga ratus pohon dalam sejam. Hal luar biasa yang gak ada di negaraku.
Padahal, Birch ini salah satu obsesi masyarakat Rusia Kuno maupun modern. Tapi banyak kutemukan pohon yang mekar di musim semi ini di sepanjang jalan yang ku tapaki.
•~•
Masih banyak yang hendak ku tanyakan pada Ibu mengenai, mengapa harus Istanbul. Ibu hanya memberiku tiket tujuan Istanbul setelah kedekatan kami, aku dan Darin tak bisa diteruskan.
Maksudku, ada banyak negara di Asia Timur ini. Bahkan Ibu bisa mengirim ku ke Milan bertemu dengan Morgan, atau ke Iran dengan bibi Sui. Bukan justru ke negara asing yang tak pernah ku sentuh.
Lengkap dengan handphone ku yang dijual sebelum berangkat, katanya aku bisa membeli baru dan menyimpan nomor Ibu, hanya nomornya.
Soal Darin itu rumit, dia harus di kirim untuk menjadi relawan di pelosok, mengingat pekerjaannya yang cukup cocok dibidang itu.
“Tetangga baru? “
Apartement sederhana yang dibeli Ibu saat aku dikirim kemari. Padahal aku tau Ibu bisa membeli dengan mahal untukku. Yah, mungkin dia sedang kecewa.
Seorang laki-laki yang tingginya mungkin lima belas lebih unggul daripada Darin. Ku Deskripsikan. Tubuhnya berbalut kaos putih menjiplak ototnya yang terbentuk, matanya coklat, beberapa di sekitar rahangnya ada buku tipis, ditambah hidungnya mancung dan alis tebal. Tapi yang buat aku terpikat adalah bibirnya yang sedikit terbuka berwarna merah muda. Dan satu lagi aroma sabun yang baru saja mandi tercium, mungkin dia hendak bekerja setelah membuang sekresek sampah.
Aku melirik wajah laki-laki itu yang seolah tengah menungguku menjawab. Padahal sejujurnya aku tak tahu apa yang dia katakan dalam bahasa Turki.
“Excuse me?” sejujurnya akupun tak terlalu fasih berbahasa Inggris, hanya saja itu jauh lebih baik daripada Bahasa Turki yang sama sekali tak aku ketahui.
“Kamu tetangga baru, nona?”. Ah, aku mengangguk sebagai jawaban. Ku lirik dia mengangkat sekresek sampah.
“Senang bertemu denganmu, Aku Serkan”. Aku tidak tahu harus berkomentar apa, haruskah ku kenal kan namaku seperti perkenalan siswa ke orang asing yang baru saja ku kenal setelah kemarin aku sampai disini.
“Ema”. Laki-laki itu tersenyum tipis, hanya setipis itu tapi bisa membuat matanya menyipit.
“Kalau ada sesuatu yang kamu butuhkan, kurasa aku dapat membantumu. Jangan sungkan”. Walaupun dia terlihat seperti ingin bekerja di pagi hari walaupun masih mengenakan kaosnya, mungkin. Tapi dia tak terlihat buru-buru mengakhiri percakapan basa-basi ini.
Ah, aku lupa. Aku butuh handphone. “Ah, aku.. Maksudku bisa antar aku ke toko elektronik? Aku butuh handphone “. Ya mau gimana, mau bertanya tapi ya begitu.
Dia tersenyum lagi, ntahlah mungkin aku terlihat lucu dengan keadaan konyol tanpa membawa benda penting itu di negara orang.
Kami bercakap-cakap. Yang kutahu tentang Serkan, dia bekerja di bidang Properti dan mabel. Dia bukan orang asli Turki, Ibunya berdarah spanyol dan Ayahnya asli Turki. Dia baru tiga tahun disini.
Mungkin usianya dua puluh enam atau lebih. Dilihat dari caranya berbicara, dia lebih dewasa dari Darin.
Dia asli seorang muslim, berbeda denganku yang baru mualaf beberapa tahun yang lalu saat Ibu dan Om resmi menikah.
Setelah membayar uang pada pengendara mobil yang sebelumnya sudah kami sepakati. Aku dan Serkan turun di sebuah toko elektronik.
“Terimakasih untuk bantuannya. Padahal kamu mungkin akan bekerja, maaf sudah meminta waktumu”. Mengingat pagi ini banyak para pegawai yang hendak bekerja bahkan mengantre kebab hanya untuk sarapan mereka. Tapi dia, tanpa berpikir mengiyakan ucapanku untuk mengantarku kemari.
Satu hal yang kusuka dari Serkan adalah caranya tersenyum. Aku suka matanya yang akan menyipit.
“Tidak, apa. Kamu gak lupa kan untuk pulang? Aku akan pergi dahulu”.
“Gak kok, aku masih ingat. Sekali lagi terimakasih sudah mengantarku”.
Dia melambaikan tangannya, berjalan menjauh dari toko.
Aku menghabiskan beberapa lembar Lira untuk sebuah handphone yang hanya kugunakan untuk SMS atau mengirim surel pada Ibu. Hanya Ibu.
Mungkin dia mengantisipasi agar aku tak berhubungan lagi dengan Darin, bahkan sekedar menanyakan kabar.
Dulu sebelum aku pindah ke Palembang, kami, aku dan Ibu tinggal di Damaskus dengan Bibi Sui dan paman Joe. Setelah paman Joe meninggal Bibi Sui bekerja sebagai relawan di di gereja, dan aku dan Ibu kembali ke Palembang, tempat dimana Ibu bisa bekerja sebagai dokter bedah.
Lalu Ibu bertemu dengan Om Firma, salah satu kepala bedah di rumah sakit tempat dia bekerja. Saat itu usia ku sangat belia mungkin delapan tahun dan Darin empat tahun diatasku. Karena terbiasa bersama aku menyukai Darin. Tidak, tapi kami. Kami saling menyukai.
Hubungan kami hanya sebatas gandengan tangan dan kecupan pipi. Tidak lebih.
Tapi Ibu bilang dia akan menikah lagi, dengan Om Firma. Ya, mau bagaimana lagi. Pernikahan itu gak bisa aku hentikan.
Kami, aku dan Ibu menjadi mualaf dari Kristen Ortodoks. Begitu hubunganku dengan Darin masih terjalin hingga aku Lulus SMA. Sampai Ibu mengetahui hubungan tak baikku dengan Darin.
“Halo, Bu. Aku udah sampai sore kemarin”
Aku melirik sekitar, banyak pedagang asongan yang ramai. Mungkin aku bisa beli sebagai sarapan, melihat gak ada bahan masakan.
“Iya, aku baru beli handphone. Mungkin nanti aku mau beli beberapa alat dapur. Kamu gak menyiapkan jadi aku agak bingung buat beli disini”
Mati-matian aku menahan agar tak menanyakan kabar Darin. “Ya. Ada tetangga yang baik hati juga”. Mengingat Serkan yang mau meluangkan waktunya.
Kami terdiam cukup lama. Aku bisa mendengar suara Om dan Bibi Jule.
“Bu, kenapa... Harus Istanbul? “. Pertanyaan ini yang ingin aku tanyakan selama perjalanan ku ke Turki.
Kalimatku tadi mungkin membuat Ibu tercenung. Nyatanya aku tak mendapatkan jawaban dari Ibu bahkan hingga akhir telepon Ibu hanya terdiam.
Komentar
Posting Komentar